Langsung ke konten utama

FEMINISME TODAY KOHATI

                                     Oleh:

                     NURSALIMA YOISANGAJI


Apakah KOHATI  perlu mengadopsi feminisme sebagai metodologi alternatif kritis dalam analisis KOHATI terhadap isu-isu keperempuanan? 

Feminisme hari ini KOHATI, Ketika kita berbicara mengenai feminisme maka kita akan mengenalnya dengan gerakan perempuan menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-lakI, namun sebagai KOHATI yang lahir dari rahim organisasi islam maka di dalam islam tidak mengenal yang namanya feminisme (penuntutan hak), dengan berbagai konsep dan implementasinya dalam melakukan gugatan atas nilai-nilai subbordinasi kaum perempuan, karena dalam islam tidak membedakan kedudukan seseorang berdasarkan jenis kelamin dan tidak ada bias di antara keduanya, berdasarkan al-qur’an surat al-baqara ( ayat 30). 

Hinggah yang menjadi problem KOHATI adalah apakah kita harus terus mengadopsi feminisme?  Poin penting mengenai berdiri sebagai KOHATI rumusnya sudah bukan lagi penuntutan hak namun mengetahui sejauh mana pemahaman KOHATI mengenai feminisme, hal ini terus menjadi pembahsan dalam lingkungan masyarakat sebagaimana perempuan adalah jenis manusia yang tersubbordinasi dan laki-laki adalah kaum yang mensubbordinasi.

Banyak gerakan dan ideology feminisme yang telah berkembang selama tahun-tahun terakhir ini, serta mewakili berbagai sudut pandang dan tujuan kemerdekaan yang inggin di raih oleh perempuan. Beberapa cendikiawan menganggap kampanye feminis sebagai kekuatan utama di balik perubahan social dalam sejarah terhadap hak-hak perempuan, ini menjadi suatu ketidakadilan bagi kaum perempuan, perihalnya adalah tuntuntan namun hal ini akan terus melahirkan penuntutan hinggah hasil dari penuntututan tersebuat sulit untuk di genggam bagi kaum perempuan, sederhananya KOHATI dan feminisme KOHATI sendiri lebih dari berbicara gerakan maka berbicara dunia modern motifnya sudah bukan lagi berspekulasi dan asumsi semata. 

Karena jelas bahwa di dalam pedoman kita umat islam adalah al-qur’an bahasa persamaan hak telah di berikan bagi perempuan dan laki-laki ruang yang di berikan dalam berbagai rana untuk perempuan dalam aspek ekonomi, pendidikan, politik, bahkan di dalam wilayah keluarga, hal ini yang di jelaskan dalam bukunya M,QURAISH SHIHAB dengan judul (perempuan), melihat dalam al-qur’an surat annisa( ayat 34). pemahaman atau penafsiran mengenai kata pemimpin adalah ia menunjukan sifat dari pada maskulin  seseorang atau kuat, sebagaimana contohnya perempuan sebagai pemimpin dalam rana rumah tangga, pemimpin laki-laki dalam rumah tangga adalah pandangan ksusunya dalam hal laki-laki (suami) yang mengimani keluarganya, ples menafkahi adalah kewajibannya.

Namun perempuan dapat di katakan bisa menjadi seorang pemimpin sebagaimana kewajiban laki-laki (suami) yang telah di ambil alih oleh seorang perempuan ( istri), realitas membuktikan sekarang bahwa hal ini terjadi dalam kalangan masyarakat ksusunya di dalam kehidupan berumah tangga, apa plening kita sebagai KOHATI? yang terpenting bukan lagi harus mengadopsi feminisme yang terus hanyut dalam pnuntutan hak, namun dunia modernnya KOHATI adalah observasi dan bereksperimen hinggah tidak selamanya ruang yang secara lahirian telah melekat dengan diri kita namun hal itu tidak mampu di buktikan dengan satu pembuktian yang ril, secara nyata apa yang di tuntut dan apa yang menjadi wacana, KOHATI sudah tidak harus mengadopsi feminisme namun KOHATIlah yang harus menelan habis kata feminisme sebagaiman tuntuntan-tuntunan hak perempuan, KOHATI melihat bahwa hak perempuan pincang, tinjauannya harus kritis serta logis dan mampu melahirkan solusi berdasarkan kebaikan bersama karena setiap individu di berikan kebebasan untuk memilih apa yang baik untuk dirinya, asal tidak merugikan orang lain. liberalisme juga  menekankan pada masyarakat yang adil untuk memungkinkan setiap inividu mempraktekkan otonomi dirinya dalam memenuhi kebutuhannya.


Ketika apa yang di katakana oleh MAHAD MAGANDI dalam bukunya, (perempuan dan ketidakadilan social). Mengatakan bahwa perempuan seharusnya lebih fokus dan memperdalam ilmu domestik (keluarga), karena itu adalah pekerjaan yang sangat mulia dan tiada taranya jika  kita persamakan dengan pekerjaan lelaki, semua ilmu boleh di raih oleh mereka namun ilmu merawat nyawa atau anak tidak akan ada penyetaraanya antara seorang istri dan suami. 

H



al ini pun tidak dapat membatasi perempuan tampil dalam wilayah publik,  kembali untuk KOHATI bukan lagi  mengadopsi feminisme dalam hal gerakan menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki yang menjadi keurgensinya, namun pemahaman sejauh mana mengenai feminisme tersebuat agar dapat  mengatualisasikan dan menjadi sumber mata air bagi perempuan pada umumnya, karena sejauh ini KOHATI sudah barang tentu perempuan namun perempuan belum tentu adalah KOHATI.

Komentar

  1. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang kepala Negara adalah pemimpin, suami pemimpin dalam rumah tangganya, istri pemimpin atas rumah suami dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya”. (HR. Bukhari).
    Pahami hadis tersebut, ada nilai feminisme atau tidak? Dan kata "Kawwam" dalam surat an-nisa, itu mengandung Fiil apa, dan ada nilai feminisme tidak? Untuk merepresentasikan nilai-nilai faminisme dalam Islam itu banyak.
    Al Baqarah ayat 30 itu berbicara mengenai esensial manusia pada konsepsi penciptaan secara kodrati, coba baca An-nisa ayat 1 lebih jelas..!
    Untuk merepresentasikan nilai² perempuan baik secara individual, rumah tangga maupun sosial coba pahami hadis yang pertama di atas..
    Bagus tulisannya, coba kembangkan lagi.. yakusa

    BalasHapus
  2. Siap kk mkasi atas masukannya🙏🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Mohon berkomentar dengan sopan

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN WUJUD LUKA

Oleh:   Nursalima Yoisangaji Yang  menjadi  pusat  perhatian  masyarakat secara umum terhadap perempuan adalah suatu objek yang tiada arti, lemah, terendah. Banyaknya stigma-stigma buruk yang selalu coba dilontarkan kepada setiap perempuan, hal ini yang menjadi kecenderungan dan budaya masyarakat secara sistematik. Langkah yang di ambil oleh setiap perempuan selalu menghadirkan pemahaman yang menyesatkan bagi perempuan sendiri, sekalipun dalam hal kebaikan dan kebenaran yang seharusnya kita bisa berbangga atas itu. Bagaimana seorang perempuan itu bisa menggali potensi dasarnya sebagai mahluk tuhan (perempuan), Imam Khomeini coba membuka cakrawala potensi yang dimiliki seorang perempuan. Pentingnya peran perempuan dalam membangun sebuah peradaban. Namun Sulit untuk menyatakan secara pasti jika kesadaran dan cara berfikir masyarakat masihlah berbekas kebudayaan silam Yang selalu menganggap suatu keberhasilan takkan bisa di genggam oleh yang namanya perempuan Hal i...
 SEKTOR PARIWISATA NYARIS TUMBANG AKIBAT COVID-19 Oleh: Astuti Alim     Wasek Internal Kohati komisariat syariah Dalam kehidupan, manusia selalu berusaha untuk memenuhi segalah kebutuhanya,Meskipun pada akhirnya tidak semua kebutuhan tersebut dapat di penuhi di karenakan banyak faktor yang mempengaruhinya di antaranya: kemampuan financial, kesadaran, maupun keterbatasan jumlah barang dan jasa yang tidak sebanding dengan meningkatnya kebutuhan manusia yang seolah-olah tidak terbatas. Sejak adanya instrruksi menjaga jarak sosial dan beraktifitas di rumah saja, sektor pariwisata lesu. Bahkan kelesuan itu sudah di rasakan sebelum Indonesia mengumumkan pada pasien positif corona pada awal Maret 2020 lalu. Dampak COVID – 19  yang muncul sejak akhir tahun 2019 lalu tidak hanya kesehatan saja, perokonomkan di berbagai Negara pun turut terkena imbasnya. Indusrti pariwisata sala satunya, Melemahnya industry pariwisata akibat COVID-19 hal ini juga terjadi di Indonesia beberapa ...

WOMEN NOT ONLY IN THE MIND

Oleh: Nursalimah Yoisangaji Sekertaris Kohati HMI Komisariat Syariah Iain Ternate Periode 2022-2023 Di dalam pandangan masyarakat perempuan adalah suatu keutuhan dalam meningkatkan potensi sebagai produk domestik dengan terus menempatkan perempuan sebagai skala subordinasi. hal ini bukanlah stigma yang baru terdengar di telinga, bahkan menjadi suatu keudayaan masyarakat secara meluas terhadap perempuan, hal ini dapat dijuluki sebagai diskriminasi dasar terhadap perempuan. karena pandanggan atau pola berfikir masyarakat terhadap perempuan hanyalah pada sisi terendah, hal ini akan menjadi budaya yang terstruktur sehingga akan berdampak pada setiap generasi perempuan yang akan terkungkung atas budayanya dan ruang berekspresi untuk perempuan sudah tidak lagi di mumpuni, dengan demikian stigma-stigma ini dapat menghadir problem yang secara otomatis membuat ruang gerak perempuan itu vakum.  paradigma masyarakat inilah yang harus diubah, dengan cara perempuan terus menghadirkan sesuatu ya...