SEKTOR PARIWISATA NYARIS TUMBANG AKIBAT COVID-19
Wasek Internal Kohati komisariat syariah
Sejak adanya instrruksi menjaga jarak sosial dan beraktifitas di rumah saja, sektor pariwisata lesu. Bahkan kelesuan itu sudah di rasakan sebelum Indonesia mengumumkan pada pasien positif corona pada awal Maret 2020 lalu. Dampak COVID – 19 yang muncul sejak akhir tahun 2019 lalu tidak hanya kesehatan saja, perokonomkan di berbagai Negara pun turut terkena imbasnya.
Indusrti pariwisata sala satunya, Melemahnya industry pariwisata akibat COVID-19 hal ini juga terjadi di Indonesia beberapa destinasi wisata seperti bali, Yogyakarta, dan Lombok mengalami penurunan pengunjunag yang cukup drastic.
Bali adalah sala satu destinasi yang paling kenal dampaknya wisatawan mancanegara adalah sumber pemasukan nomor satu dari pulau dewata tersebut. Hal serupa terjadi di Yogyakarta.
Wisatawan mancanegara yang biasa terlihat lalu lalang di jalan kini terlihat hamir tidak ada hotel-hotel pun sepi karena tidak ada yang menghuni meskipun bulan maret termaksud dalam kategori low season di mana wisatawan lebih jarang berkunjung, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke yogyakarta tetapi lebih sedikit dari pada biasanya.
Dan kejadian seperti ini sering juga terjadi pada daerah-daerah yg memiliki tempat wisata sesuai dengan persyaratan sebagai sebuah destinasi pariwisata sebagaimana telah di jelaskan dalam UU NO 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan Manparekraf/Kepala Baparekraf Wishnutama Kusubandio pada senin ( 23/3/2020) dalam live streaming Press Statemen Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Tengah Wabah COVID-19 Menyatakan “ proritas Kemenparekraf bersama kementrian lembaga lainnya yaitu mengatasi wabah dan dampak COVID-19.
Kami menyadari betul dampak COVID-19 para pekerja dan masyarakat, Kita tidak hanya bicara mengenai kondisi ekonomi, Namun yang terpenting menjaga kesehatan dan keselamatan setiap individu masyarakat Indonesia.
Di mana sesuai dengan surat edaran yang di keluarkan pada 18 Maret 2020, segalah kegiatan di dalam dan di luar ruangan di semua sektor yang berkaitan pariwisata dan ekonomi kreatif di tunda sementara waktu demi mengurangi penyebaran corona, di sisi lain juga ada banyak pihak yang terdampak akibat kebijakan itu dan jumlahnya besar.
Hal ini dapat menimbulkan tekana inflasi makin meningkat dari rata-rata 2,8% Namun, Asian Developmennt Bank ( ADB) lihat tekanan inflasi tersebut akan di imbangi (offset) dengan turunya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non subsidi akibat harga minyak renda, serat subsidi tambahan untuk listrik dan bahan panggan.
Begitu pun dengan defisit transaksi berjalan (Computer Aided Design (CAD) yang di royeksi akan kembali melebar menjadi 2,9 % terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun 2020 sebab, pendapatan ekspor dari sektor pariwisata dan komuditas di pastikan menurun signifikan dengan di lock down nya tempat-tempat pariwisata maka secara otomatis pendapatan dalam Negara akan berkurang. Kita berkaca pada tahun 2018 yang lalu sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar kedua setelah sawit sebesar 15 juta USD.
padahal,pada tahun 2012 pariwisata masih berada pada posisi keempat penyumbang devisa. Perkembangan menyebabkan sektor pariwisata mengalami pergeseran kedudukan sebagai sumber devisa Negara.posisi pariwisata sebagai sumber devisa terus naik dari tahun-ketahun dalam 5 tahun terakhir devisa dari sektor pariwisata terus mengalami peningkatan.Tahun 2015 sektor pariwisata menghasilakan 12,2 Miliar USD; Tahun 2016 naik menjadi 13,6 Miliar USD; Tahun 2017 sebesar 15 Miliar USD; Tahun 2018 Meningkat menjadi 61,1 Miliar USD; dan estimasi di tahun 2019 ini sebesar 17,6 Miliar USD sedangkan di tahun 2020 mengalami penurunan di perkirakan 50 persen penurunan devisa ini di sebabkan merebaknya COVID-19 sehingga mengurangi kunjungan wisatawan baik domestic maupun mancanegara sehingga bisa di simpulkan jumlah kunjugan wisatawan pun di perkirakan anjlok cukup dalam .
Walaupun secara global, Negara kita (Indonesia) tidak termaksud kedalam 10 besar Negara penerima devisa yang bersumber dari sektor pariwisata akan tetapi pada juma’at 23/11/2018 mendapatkan piagam penghargaan dunia pada gelaran To Asia Corporate Bali.Asosiasi Industri Penerbangan Internasional (IATA) bahkan suda mengumumkan bahwa kerugian industri penerbangan akibat COVID-19 bisa meginjak anggka 113 miliar USD.
hal ini jika di biarkan Negara bisa mengalami kerugian akibat indistri pariwisata yang terus anjlok.Pariwisata internasional yang terus bertumbuh adalah sala satu industry yang paling signifikan menaikan kondisi ekonomi dunia sejak tahun 1950-an. Meskipun begitu, pemerintah Negara yang terkena dampak dari COVID-19 harus beruapayah memulihkan industry pariwisata setelah wabah ini berangsur menurun.Dengan demikian,wisatawan bisa bepergian lagi dan kondisi ekonomi kembali stabil.
Telah di ketahui oleh hamper seluruh penduduk yang ada di dunia bahwansanya COVID-19 menimbulkan berbagai macam dampak sala satunya di segi pariwisata,menurut pengamatan saya bahwa untuk menaikan dan megotimalisasi anjlokya sektor pariwisata yaitu
1. mengatasi merosotnya angka wisatawan,
2. mengembalikan dan megoptimalkan serta meningkatkan kembali potensi pariwisata sehingga menjadi Negara yang unggul dalam sektor pariwisata
3. promosi dan pasaran yang efektif dsn efisiensi,
4. Kesadaran Kolektif Pentingya sektor pariwisata,
5. pembangunan infasttruktur dan jaringan informasi,
6. menciptakan ikon pariwisata Indonesia
7. peran pemerintah daerah membangun pariwisata lokasi.
dan harapan saya kedepanya semoga Indonesia bisa mampu bersaing dengan Negara-negara lain dengan memanfaatkan sumber daya alam kita sendiri tanpa harus menjadi budak di Negara sendiri.serta COVID-19 ini bisa lekas hilang dari permukaan bumi dan tak akan pernah kembali lagi kedunia ini terlalu banyak manusia yang tersiksa sampai ada yang mati kelaparan karena hanya untuk mematuhi peraturan pemerintak dgn tujuan memutuskan rantai penularan yang ada bukan mati karena COVID-19 akan tetapi mati tersiksa karena kelaparan.
Ternate, 04 Agustus 2021

Komentar
Posting Komentar
Mohon berkomentar dengan sopan