Saat aku mengenalmu, seminggu setelah hari itu cinta datang menemuiku. Dia menghampiriku tanpa permisi, menggangu perhatianku yang pada saat itu aku sedang mengantar senja pulang.
Rutinitas yang ku lakukan sebelum aku di selimuti gelap, biasanya ku bawakan sepotong senja dari tepian pantai untukmu, di hari itu di gagalkan oleh cinta yang kedatangannya tidak ku kehendaki.
Serentak dia bertanya kepadaku, “siapa yang harus ku tawan?” aku hanya terdiam dengan sedikit bingung lalu mengabaikan pertanyaannya. Lalu Dia mengulanginya sebanyak 3 kali. Dengan ketidak tahuanku akupun menyaut “apa maksudmu?”
Dengan wajah tersenyum dia kemudian duduk di sampingku lalu memandangi jingga yang hampir berakhir dan berkata “untuk apa dengan sepotong senja yang kau bawakan pada seorang wanita di setiap harinya klau bukan karena rasa cinta?” lalu dia mengulangi lagi pertanyaan pertamanya, “siapa yang harus ku tawan”?
Terlintas dalam pikiranku, dari pada banyak berdebat soal rasa lebih baik aku ikuti saja apa yang dia bicarakan. “apakah setiap manusia yang jatuh cinta harus menjadi tawananmu?” tanyaku.
Lalu dengan gagahnya dia berkata “aku adalah hulu dari segala rasa, setiap aliran rasa itu berasal dariku. Rindu, cemburu, bahagia, takut, sedih, ceria, gelisah, serta apapun yang di rasakan manusia adalah bersumber dariku. Aku adalah pengendali semua yang keluar dari Qalbu. Semuanya akan menjadi tawananku”.
“Jika seperti itu, jadikanlah kami berdua sebagai tawananmu. Agar senantiasa kami selalu bersama walaupun sebagai budakmu”. Pintaku padanya.
“tidak bisa, aku hanya akan menawan salah satu di antara kalian. Kesempurnaan bukanlah kesamaan yg bercampur tp perbedaan yg saling mengisi. Yg menjadi tawananku akan selalu tunduk dan patuh pada hatinya, dan yg ku bebaskan lebih cenderung pada pikiran dan hasratnya. Jd pilih lah siapa yang lu tawan?”. Tegasnya sambil menatapku dengan tatapan yg menembus jiwaku.
Tanpa ragu dan dengan penuh keyakinan aku menjawab pertanyaannya “ jadi kanlah aku tawananmu, yang selalu tundul pada kehendak rasa. Selalu berkiblat pada fatwa hati. Akan kuhibahkan seluruh hidupku untuknya, menjadi apa yg di inginkannya, dan menjadi bagian dari dirinya. Jadikan aku budakmu wahai cinta, belenggulah hasratku pada selain dia, tularkan takdir buruknya dengan takdir baikku agar aku yg menanggung segala deritanya. Aku ingin melihatnya terbang bebas menggapai setiap asa dan tersenyum lepas meraih cita”.
Setelah mendengarkan jawabanku, cintapun berdiri dan mengikat hasratku, dan semua bentuk keinginan selain dirimu. Dia hanya meninggalkan hati sebagai bekalku menemanimu.
Hingga saat ini, aku tak tahu kemana dia menyimpan hasrat dan keinginanku. Yang aku tahu aku hanya punya hati untukmu.
Komentar
Posting Komentar
Mohon berkomentar dengan sopan