Langsung ke konten utama


  "Perempuan dan budaya masyarakat"                      Oleh: Nursalima Yoisangaji



Di dalam pandangan masyarakat perempuan adalah suatu keharusan dalam meningkatkan potensi sebagai ibu rumah tangga.
Dengan terus menepati perempuan sebagai skala subordinasi.

Hal ini bukanlah pembahasan yang baru terdengar di telinga bahkan menjadi suatu kebiasaan masyarakat setempat, terhadap perempuan sepertinya hal ini bisa di juluki sebagai diskriminasi terhadap perempuan. 

mengapa saya katakan demikian karena pandangan masyarakat perihal layaknya tempat perempuan adalah dapur, pandangan inilah yang   salah, suda saatnya masyarakat harus jeli dalam menempatkan pandangannya, bisa meletakkan mana seharusnya kodrat dan peran,K suda tidak lagi bicara mengenai peran bukanlah soal siapa yang menafkahi dan siapa yang ternafkahi.

Jikalau kita kembali meninjaunya pandangan-pandangan masyarakat ini akan terus menjadi budaya sehingga perempuan terus selamanya vakum untuk berekspresi dalam pola pikir masyarakat.

Kembali pada realitas perempuan dalam lingkungan masyarakat suda memerangi yang namanya beban ganda, berbagai penolakan perempuan terhadap problematika ini akan kembali hadir stegment-stegment perempuan suda seharusnya mengembangkan kebiasaannya,hal ini disebabkan karena kebiasaan,sehingga perempuan dan laki-laki sepertinya suda di beri ruang pemisah sejak kecil oleh orang tuanya.
Misalnya ketika lahir seorang anak perempuan selalu saja hadir perkataan"dia akan membantu ibu di dapur ketika besar, bagaimana dengan lahirnya anak laki-laki bedahalnya perkataan orang tua"kelak dia akan menjadi polisi atau tentara.

Seperti yang kita lihat uraian di atas kata-kata dari orang tua suda menjadi harapan,namun yang menjadi problem bagi perempuan adalah harapan seorang anak perempuan suda di rindukan orang tua di tempat yang tak selayaknya.

Dari ini semua perempuan akan terus mati dan lebih-lebih selalu terlatih dalam harapan orang tua (perempuan harus menjadi juara dapur), sehingga banyaknya pandangan masyarakat mengenai pendidikan adalah bukan suatu keharusan untuk perempuan menggenggamnya,bisa di katakan alhasil dari pola pandang masyarakat merupakan tekanan batin yang amat besar berdampak buruk bagi individual dan masyarakat.

Ini bukan selalu berbicara perihal tak layaknya menjalankan aktivitas demikian namun yang menjadi intinya adalah hal tersebut lebih berat pada kaum perempuan, jangan heran banyaknya perempuan yang tidak menduduki pendidikan yang layak karena selain dari faktor perekonomian pandangan masyarakat terhadap perempuan akan tetap statis Takan pernah berubah walaupun kian jaman semakin maju, selain menjadi seorang putri,ibu,dan juga istri perempuan juga di tuntut untuk meningkatkan potensi sebagai anggota masyarakat hal ini dalam artian perempuan tidak akan selamanya hidup dalam ruang gelap masyarakat setempat, terlalu banyak ujaran kata hanya untuk perempuan melangit.

Paradigma masyarakat inilah yang harus di rubah dengan cara perempuan terus menghadirkan sesuatu yang produktif berdampak besar agar dapat menjadi hiasan mata masyarakat bukan terus-menerus hanyut dalam budaya mensubordinasikan perempuan, selain itu pula perempuan di tuntut untuk memiliki kemandirian.

Kemandirian dalam hal politik, ekonomi,dan kemandirian kepribadian jadi tiada batas sejauh mana perempuan harus sukses dalam ruang publik, sebagai perempuan yang hidup di dalam lingkungan masyarakat Kita tidak boleh mati hanya karena pandangan orang-orang di sekeliling kita namun kita harus hidup dan menumbuhkan pengetahuan kita agar dapat mematikan pandangan liar masyarakat terhadap perempuan.

Bangkitkan hal-hal baru yang lebih dari cukup menjadi acuan dan arah pikir masyarakat yang tidak sepantasnya di budidayakan kepada kaum perempuan.


Ternate, 02 Agustus 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN WUJUD LUKA

Oleh:   Nursalima Yoisangaji Yang  menjadi  pusat  perhatian  masyarakat secara umum terhadap perempuan adalah suatu objek yang tiada arti, lemah, terendah. Banyaknya stigma-stigma buruk yang selalu coba dilontarkan kepada setiap perempuan, hal ini yang menjadi kecenderungan dan budaya masyarakat secara sistematik. Langkah yang di ambil oleh setiap perempuan selalu menghadirkan pemahaman yang menyesatkan bagi perempuan sendiri, sekalipun dalam hal kebaikan dan kebenaran yang seharusnya kita bisa berbangga atas itu. Bagaimana seorang perempuan itu bisa menggali potensi dasarnya sebagai mahluk tuhan (perempuan), Imam Khomeini coba membuka cakrawala potensi yang dimiliki seorang perempuan. Pentingnya peran perempuan dalam membangun sebuah peradaban. Namun Sulit untuk menyatakan secara pasti jika kesadaran dan cara berfikir masyarakat masihlah berbekas kebudayaan silam Yang selalu menganggap suatu keberhasilan takkan bisa di genggam oleh yang namanya perempuan Hal i...
 SEKTOR PARIWISATA NYARIS TUMBANG AKIBAT COVID-19 Oleh: Astuti Alim     Wasek Internal Kohati komisariat syariah Dalam kehidupan, manusia selalu berusaha untuk memenuhi segalah kebutuhanya,Meskipun pada akhirnya tidak semua kebutuhan tersebut dapat di penuhi di karenakan banyak faktor yang mempengaruhinya di antaranya: kemampuan financial, kesadaran, maupun keterbatasan jumlah barang dan jasa yang tidak sebanding dengan meningkatnya kebutuhan manusia yang seolah-olah tidak terbatas. Sejak adanya instrruksi menjaga jarak sosial dan beraktifitas di rumah saja, sektor pariwisata lesu. Bahkan kelesuan itu sudah di rasakan sebelum Indonesia mengumumkan pada pasien positif corona pada awal Maret 2020 lalu. Dampak COVID – 19  yang muncul sejak akhir tahun 2019 lalu tidak hanya kesehatan saja, perokonomkan di berbagai Negara pun turut terkena imbasnya. Indusrti pariwisata sala satunya, Melemahnya industry pariwisata akibat COVID-19 hal ini juga terjadi di Indonesia beberapa ...

WOMEN NOT ONLY IN THE MIND

Oleh: Nursalimah Yoisangaji Sekertaris Kohati HMI Komisariat Syariah Iain Ternate Periode 2022-2023 Di dalam pandangan masyarakat perempuan adalah suatu keutuhan dalam meningkatkan potensi sebagai produk domestik dengan terus menempatkan perempuan sebagai skala subordinasi. hal ini bukanlah stigma yang baru terdengar di telinga, bahkan menjadi suatu keudayaan masyarakat secara meluas terhadap perempuan, hal ini dapat dijuluki sebagai diskriminasi dasar terhadap perempuan. karena pandanggan atau pola berfikir masyarakat terhadap perempuan hanyalah pada sisi terendah, hal ini akan menjadi budaya yang terstruktur sehingga akan berdampak pada setiap generasi perempuan yang akan terkungkung atas budayanya dan ruang berekspresi untuk perempuan sudah tidak lagi di mumpuni, dengan demikian stigma-stigma ini dapat menghadir problem yang secara otomatis membuat ruang gerak perempuan itu vakum.  paradigma masyarakat inilah yang harus diubah, dengan cara perempuan terus menghadirkan sesuatu ya...