Langsung ke konten utama

                  Krisis Identitas Kader HMI

                      

                        Oleh:  Dhany Bader

              KADER HMI KOMISARIAT SYARIAH

Lafran Pane sebagai pemerkasa berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Pada tangal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tangal 5 Februari 1947 M  sebagai wadah pemersatu mahasiswa muslim dan nahkoda perjuangan generasi muda. Upaya Untuk menghadapi ancaman kolonial Belanda Dengan misi zendingya yakni 3G dan segelintir orang lainya.

Himpunan Mahasiswa Islam yang awalnya bersaskan Islam telah menuntut kaders HmI untuk menjadi Intelektual Ulama dan Ulama Intelektual. 
Narasi diatas penulis melihat riwayat hidupnya Lafran pane yang termotivasi dengan beberapa organisasi antara lain: Jond Islamic Bond (JIB) dan Studenten Islam studieclub (SIS) sehingga beliau punya rasa simpatisan terhadap mahasiswa muslim kala itu, yang minim akan ajaran agama Islam.

Kenapa demikian? karena ada beberapa lembaga akademik dan organisasi lainya. Telah menganut ajaran sekularis yang sistemnya bercorak pada budaya barat,
Baik aspek pendidikan, kebangsaan dan keumatan.

Indonesia Pasca disahkannya asas tunggal dan dikeluarkan satu bentuk regulasi yakni UU No 08 Tahun 1983 sebagai penuntut umum kepada seluruh ormas bahkan partai politk, upaya untuk mengunakan asas tunggal tersebut.

Himpunan Mahasiswa Islam ketika menggunakan asas tungalnya Islam telah menerima asas Pancasila sebagai dasar NKRI secara lapang dada.
Namun disisi lain kaders HmI yang mencoba untuk memprotak para sebaian kader agar seharusnya dan sepantasnya menjadikan asas tunggal NKRI adalah Islam karena melihat secara mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Hal yang demikian ini telah mendapat reaksi dari berbagai kalangan kaders HmI bisa disapa (A Dahlan Ranuwirajo dkk). 


Ketika disahkannya asas Pancasila sebagai dasar NKRI. Lafran pane yang Secara antusias mengatakan bahwa HMI awalnya telah menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme. Namun anggapan ini menjadikan sebagian kaders HmI untuk pesimisis.(indepensi)
Jangan heran HMI secara garis lurus ke atas telah memiliki dua pintu antara HMI-DIPO dan HMI-MPO. Namun pecahan 1 jalan menjadikan dua pintu ini Lafran pane menerima itu dengan stekmenya bahwa biarlah mereka menyelesaikan itu karena problemnya soal indepedensi.

Namun di beberapa dekade kemarin di tahun 2019/2020 telah terjadi gejolak secara turun temurun baik dilihat dari yang lebih tinggi sampai ketingkat yang lebih rendah. 
Tak lain dan tak bukan kita sapa Pengurus Besar HMI spesifikasinya ke DIPO telah mengalami satu bentuk dekandesi moral sehinga membuka dua pintu upaya untuk merebut kekuasaan negara.

Kecerobohan inilah sehinga berimplikasi sampai ketingkat cabang bahkan komisariat. Di cabang Ternate saja telah mengalami dua pintu, Yang alurnya pada kebijakan PB.

Sungguh sangat menyedihkan usia HMI didewasa ini, wadah dijadikan perantara kekuasaan ketika lemahdalam berjalan malah yang di salahkan wadahnya.

Tidak sepantasnya untuk mengupayakan rekonsiliasi, kalau penafsiran gramatikalnya tidak secara autentik, yang sepantasnya untuk dilakukan adalah tawa'duk. Bagaimana membersihkan diri upaya untuk memintah restui kepada sang halik.

Sebab Alam diciptakan sebagai tempat peristirahatan manusia. Bila alam yang telah rusak jangan tanyakan kenapa? Karena itulah ulah dari pada manusia, Begitupun HMI.
Kehidupan manusia yang secara fundamental telah diperhadapkan dengan dua pilihan yang substansial. Apakah dia harus berperan sebagai hamba/Khalifa? Atau mengkaitkan hidupnya sebagai khalifa dan hamba?

Hidup kami sangat sederhana cukup dengan beriman, berilmu dan beramal saleh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN WUJUD LUKA

Oleh:   Nursalima Yoisangaji Yang  menjadi  pusat  perhatian  masyarakat secara umum terhadap perempuan adalah suatu objek yang tiada arti, lemah, terendah. Banyaknya stigma-stigma buruk yang selalu coba dilontarkan kepada setiap perempuan, hal ini yang menjadi kecenderungan dan budaya masyarakat secara sistematik. Langkah yang di ambil oleh setiap perempuan selalu menghadirkan pemahaman yang menyesatkan bagi perempuan sendiri, sekalipun dalam hal kebaikan dan kebenaran yang seharusnya kita bisa berbangga atas itu. Bagaimana seorang perempuan itu bisa menggali potensi dasarnya sebagai mahluk tuhan (perempuan), Imam Khomeini coba membuka cakrawala potensi yang dimiliki seorang perempuan. Pentingnya peran perempuan dalam membangun sebuah peradaban. Namun Sulit untuk menyatakan secara pasti jika kesadaran dan cara berfikir masyarakat masihlah berbekas kebudayaan silam Yang selalu menganggap suatu keberhasilan takkan bisa di genggam oleh yang namanya perempuan Hal i...
 SEKTOR PARIWISATA NYARIS TUMBANG AKIBAT COVID-19 Oleh: Astuti Alim     Wasek Internal Kohati komisariat syariah Dalam kehidupan, manusia selalu berusaha untuk memenuhi segalah kebutuhanya,Meskipun pada akhirnya tidak semua kebutuhan tersebut dapat di penuhi di karenakan banyak faktor yang mempengaruhinya di antaranya: kemampuan financial, kesadaran, maupun keterbatasan jumlah barang dan jasa yang tidak sebanding dengan meningkatnya kebutuhan manusia yang seolah-olah tidak terbatas. Sejak adanya instrruksi menjaga jarak sosial dan beraktifitas di rumah saja, sektor pariwisata lesu. Bahkan kelesuan itu sudah di rasakan sebelum Indonesia mengumumkan pada pasien positif corona pada awal Maret 2020 lalu. Dampak COVID – 19  yang muncul sejak akhir tahun 2019 lalu tidak hanya kesehatan saja, perokonomkan di berbagai Negara pun turut terkena imbasnya. Indusrti pariwisata sala satunya, Melemahnya industry pariwisata akibat COVID-19 hal ini juga terjadi di Indonesia beberapa ...

WOMEN NOT ONLY IN THE MIND

Oleh: Nursalimah Yoisangaji Sekertaris Kohati HMI Komisariat Syariah Iain Ternate Periode 2022-2023 Di dalam pandangan masyarakat perempuan adalah suatu keutuhan dalam meningkatkan potensi sebagai produk domestik dengan terus menempatkan perempuan sebagai skala subordinasi. hal ini bukanlah stigma yang baru terdengar di telinga, bahkan menjadi suatu keudayaan masyarakat secara meluas terhadap perempuan, hal ini dapat dijuluki sebagai diskriminasi dasar terhadap perempuan. karena pandanggan atau pola berfikir masyarakat terhadap perempuan hanyalah pada sisi terendah, hal ini akan menjadi budaya yang terstruktur sehingga akan berdampak pada setiap generasi perempuan yang akan terkungkung atas budayanya dan ruang berekspresi untuk perempuan sudah tidak lagi di mumpuni, dengan demikian stigma-stigma ini dapat menghadir problem yang secara otomatis membuat ruang gerak perempuan itu vakum.  paradigma masyarakat inilah yang harus diubah, dengan cara perempuan terus menghadirkan sesuatu ya...